Jumat, 17 April 2009

Ada apa dengan pemilu 2009 ?

Pemilu legislatif telah dilewati tepatnya 9 April yang lalu. Banyak sekali partai yang bertarung di ajang Pemilu 2009 ini. Sudah partai yang banyak diikuti dengan jumlah caleg terbanyak sepanjang sejarah pemilu indonesia yakni 11.868 orang . Berdasarkan data yang diperoleh okezone.com , caleg terbanyak yang diajukan parpol berasal dari Partai Demokrat sebanyak 673 calon, Partai Golongan Karya (Golkar) sebanyak 644 calon, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 635 calon.
Hasil penghitungan suara sementara versi KPU Jumat 17 April 2009 sampai dengan pkl. 11.08 WIB (sumber detik.com) 5 perolehan suara terbanyak adalah 1.Demokrat (31) 2.058.666 19,56%, 2.Golkar (23) 1.571.353 14,93%, 3.PDIP (28) 1.444.378 13,72% , 4.PKS (8) 895.679 8,51% , 5. PAN (9) 676.786 6,43% . Saat ini partai demokrat masih mengungguli di tempat yang pertama.
Headline surat kabar di Indonesia pagi mengemukakan tentang Pernyataan Presiden yang meminta rakyat agar tidak mudah terprovokasi terkait dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009. Permintaan Presiden Yudhoyono itu disampaikan dalam pidato yang direkam di Istana Negara, Jakarta, Kamis, untuk disiarkan di media elektronik maupun di media cetak di seluruh Indonesia. (Harian Analisa, 17 April 2009)
Ironis sekali memang panggung politik kita saat ini, diwarnai dengan carut marutnya pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009. Banyak dugaan kecurangan terjadi baik DPT ( daftar pemilih tetap), tertukarnya surat suara antar daerah pemilihan dan kecurangan rekapitulasi suara di tingkat kecamatan yang marak di tv belakangan ini. Untuk suatu pesta demokrasi bangsa ini mengeluarkan kocek yang tidak sedikit, APBN 2008 mengalokasikan dana untuk keperluan penyelenggaraan Pemilu 2009 sebesar Rp 6,67 triliun, dan untuk keperluan operasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebesar Rp 793,9 miliar(Harian Sinar harapan 7 Juli 2008). Angka yang fantastis bukan ? Tetapi untuk realisasinya dari hasil Pemilu Legislatif tersebut sangat jauh dari yang diharapkan. Mulai dari sosialisasi pemilu yang kurang, masalah DPT, sampai dengan penghitungan suara yang berjalan sangat lambat secara nasional. Memang Pemilu tahun 2009 ini terkesan ribet dari pemilu yang sebelumnya. Tapi itu juga tidak bisa dijadikan alasan carut marutnya pemilu.
Biaya yang mahal tidak menjamin hasil yang baik bukan ? Seharusnya bangsa ini kembali menyadari bahwa prinsip bernegara ini adalah dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya dana yang besar dari pajak yang dibayarkan rakyat, dikelola dengan baik oleh stakeholders, dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk program yang menunjang kebaikan rakyat. Sehingga semua berjalan dengan baik.
Pemilu legislatif 2009 dan Pilpres 2009 kiranya memberikan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan rakyat.
(tnt_karo)