Selamat hari Minggu buat semua. Kiranya hari demi hari kita semakin diberkati oleh bapa di Surga. Semakin hari semakin bertambah berkatnya dalam hidup kita.
Hari ini aku membagikan pengalaman ku di Gereja tadi. Sepanjang kotbah yang aku dengarkan tentang Anak yang hilang, yang diambil dari Lukas 15 : 11-24 aku melihat sekeliling atap Gereja. Pandanganku ke arah atas dan bawah ( aku duduk di balkon). Mataku tertuju pada 1 lampu kristal yang menurutku biasanya lampu itu indah. Kenapa disini tidak kelihatan indah ya?
Lama aku meyadari sembari aku mendengar khotbah ibu pendeta. Ada beberapa hal yang dia ingatkan kita tentang kotbah hari ini. Bagaimana Tuhan itu begitu mengasihi kita manusia. seberapapun kita menyakiti kita Dia tetap Allah yang setia. Tetapi dia juga Allah yang Adil. Sama seperti Ayah si anak yang hilang yang setelah kepergian anaknya menantikan bahkan sangat menginginkan kepulangan anaknya. Begitulah Allah kita. Tetapi si anak yang mengambil keputusan untuk memfoya-foyakan harta ayahnya, menjadi seorang yang sangat terhina di negeri orang , karena keputusan yang salah. Keputusan yang salah berakibat pada penderitaannya yang panjang di negeri orang.
Sembari aku mendengar dan menatap langit-langit Gereja, aku mulai berpikir, seandainya lampu kristal itu diletakkan di ruang tamu di rumah yang mungil pastilah dia sangat indah.
Apalagi kalau dia menerangi rumah mungil itu dengan sinarnya. Pastilah hangat dan terang. Bias-bias cahaya kuningnya mampu menghangatkan suasan penghuninya. Tetapi lampu kristal Gereja itu tidak seperti itu. Aku tidak tahu apakah waktu mendesain Gereja tidak dipertimbangkan besarnya atau dananya yang kurang. Pastilah mereka punya alasan. Yang pasti lampu kristal itu menginspirasikan aku tentang sesuatu. Jikalau kita menempatkan diri dalam kapasitas yang sesuai tentulah hasilnya pasti sesuai. Tetapi jikalau kita menempatkan diri diluar kemampuan kita maka hasilnya mungkin tidak seperti yang diharapkan.
Jadilah besar ketika memang kita besar, dan jadilah kecil ketika kita kecil.